Saturday, January 14, 2012

Cooperative Program Student (COOPS VeleINCO) 2012

0 comments
Hy teman ada penerimaan coops Baru di INCO, silakan gabung n dapetkan segala keuntungan, Pokoke di jamin deh Dapet banyak ilmu dan Duit...

Cooperative program student adalah hasil kerjasama PT Inco & Unhas. Program ini adalah wujud kepedulian PTI terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal terkhusus di SulSel.

Lumayan kan dapet Ilmu skaligus Duit, Bisa beli apa aja yang di mau...

BERMINAT?? Silakan baca pengumuman berikut...



 Jgn Lupa tinggalkan Feedbackx Okay!!!!
smoga Bermanfaat>>>>>
Read more...

Thursday, January 12, 2012

Singkapan Batuan Masa Prakambrium

1 comments

SINGKAPAN BATUAN
HASIL PEMBENTUKAN MASA PRAKAMBRIUM

Berdasarkan hasil penanggalan Radiometri menunjukan bahwa Bumi berumur 4.570 Juta tahun. Proses pembentukan singkapan batuan penyusun kerak bumi sudah berlangsung sejak masa prakambrium sekitar 4.500 jutah tahun sampai 280 juta tahun lalu yang dimulai pada masa Hadean, berlanju ke masa Arkeozoikum serta masa Proterozoikum hingga saat ini.

A.        Masa Prakambrium
Masa prakambrium berlangsung sekitar 4.500 juta tahun lalu dan diperkirakan berakhir sekitar 280 juta tahun lalu. Masa ini berlangsung dalam tiga tahapan masa yang sangat berperan dalam sejarah pembentukan bumi yakni masa Hadean, Arkeozoikum dan Proterozoikum.
a.     Masa Hadean
Masa ini berlangsung sekitar 4.500 juta tahun sampai 3.800 juta tahun yang lalu. Fase awal pembentukan singkapan batuan penyusun kerak bumi berlangasung pada masa ini hal ini di tandai dengan ditemukannya mineral Zircon yang di perkirakan berumur 4.400 juta tahun.
b.     Masa Arkeozoikum
Masa ini diperkirakan berumur 3.800 juta tahun hingga 2.500 juta tahun lalu. Masa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua. Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrorfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan primitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun.
c.     Masa Proterozoikum
Masa Proterozoikum berlangsung sekitar 2.500 juta tahun sampai 630 juta tahun yang lalu. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes). Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.

Gambar 1. Rentangan Waktu Geologi pada Masa Prakambrium

Read more...

Friday, January 6, 2012

Pembagian Laut dan Samudera Di Dunia

1 comments

PEMBAGIAN LAUT DAN SAMUDERA DIDUNIA SEBAGAI  KOMPONEN PENYUSUN PERMUKAAN BUMI

Komponen utama penyusun permukaan bumi adalah daratan dan lautan. Lautan merupakan komponen terluas yang menyusun permukaan bumi. Lautan menempati hampit 70% dari luas permukaan bumi sedangkan sisanya merupakan bagian dari daratan. Lautan dapat dibagi menjadi dua bagian utama yakni laut dan samudra.


A.             Laut dan Samudera
Laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Sedangkan, Samudra adalah laut yang luas dan merupakan massa air asin yang sambung-menyambung meliputi permukaan bumi yang dibatasi oleh benua ataupun kepulauan yang besar. Laut dan samudera menutup hampir 70% permukaan bumi. Terkadang, orang mencampuradukkan laut dengan samudera. Kebanyakan laut adalah bersambung dengan samudera, kecuali beberapa laut seperti Laut Mati yang dikelilingi daratan. Air di laut merupakan campuran 96.5% air suling dan 3.5% bahan lain seperti garam, gas dan bahan-bahan terlarut lain.
Gambar 1. Kenampakan Laut dan Samudera
Sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2010/02/5-lautan-samudera-terdalam-di-dunia.html

Read more...

Potensi Geohidrologi Jakarta Utara dan Sekitarnya

0 comments
POTENSI GEOHIDROLOGI DAN PEMANFAATAN AIR TANAH DI WILAYAH JAKARTA UTARA DAN SEKITARNYA


Air merupakan sumberdaya alam yang terbatas me-nurut waktu dan tempat. Pengolahan dan pelesta-riannya merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan. Airtanah adalah salah satu sumber air yang karena kualitas dan kuantitasnya cukup potensial untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan dasar mahluk hidup.

PENDAHULUAN
Airtanah merupakan salah satu komponen dalam peredaran air di bumi yang dikenal sebagai siklus hidrologi. Dengan demikian airtanah adalah salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, tetapi hal ini tidak berarti sumberdaya ini dapat dieks-ploitasi tanpa batas. Eksploitasi airtanah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap keseimbangan alam itu sendiri. Pengem-bangan sumber airtanah harus berdasar pada konsep pengawetan, yaitu memanfaatkan airtanah secara optimal, mencegah pemborosan dengan menjaga skala prioritas pemakaian dan menjaga kelestarian alam.
Air merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Sirkulasi suplai air di bumi juga disebut siklus hidrologi. Siklus ini berawal dari sistem energi matahari yang merupakan energi yang berperan cukup penting bagi siklus hidrologi memancarkan energinya sehingga air yang berasal dari danau, rawa, sungai maupun dari laut secara tetap mengalami evaporasi menjadi uap air yang naik ke atmosfer. Angin akan mengangkut uap air pada jarak yang sangat jauh dan akan berkumpul membentuk awan, setelah mengalami jenuh akan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran air yang jatuh ke permukaan bumi juga disebut dengan hujan. Turunnya hujan ke bumi ini mengakhiri siklus hidrologi dan akan dimulai dengan siklus yang baru.
Di daerah Jakarta, Rencana Umum Tata Ruang DKI Jakarta tahun 1985 - 2005 telah menetapkan beberapa pusat pengembangan kawasan yang dinilai memiliki potensi dan nilai strategis. Kecederungan perkembangan terlihat terjadi di kawasan pantai utara karena memiliki posisi yang strategis. Sesuai dengan Keppres Nomor 17 tahun 1994, tentang REPELITA VI menetapkan Kawasan Pantura sebagai kawasan andalan.

GAMBARAN UMUM KOTA JAKARTA UTARA
Letak Geografis
Wilayah Jakarta Utara dengan luas daratan 154,01 Km2 dan luas Lautan 6,997,50 Km2 mempunyai batas – batas geografis sebagai berikut :
·         Utara pada titik koordinat 106-20o-00oBT sampai dengan 06-10o-00o LS
·         Timur berbatasan dengan Kali Bloncong dan Kali Ketapang Jakarta
·         Selatan, Pedongkelan, sungai Begog – selokan Petukangan wilayah DKI, Kali Cakung
·         Barat berbatasan dengan Jembatan Tiga, Kali Muara Karang dan Kali Muara Angke

Gambar 1 : Kondisi Ekisting Kawasan Pantura Jakarta Utara (Sumber BP Pantura)
Read more...

Oseanografi Takabonerate

0 comments
KONDISI OSEANOGRAFI KEPULAUAN TAKA BONERATE
PROVINSI SULAWESI SELATAN

Sebagian besar dari hamparan bumi ini adalah lautan, hal tersebut berarti sebagian besar merupakan perairan yang merupakan air asin dimana jumlah air asin yang ada di bumi mencapai 97%. Untuk mengkaji dan mempelajari segala yang berkenaan dengan kelautan maka lahirlah oceanografi yang merupakan salah satu cabang ilmu bumi, yang khusus mengkaji tentang kelautan. Oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Salah satu daerah yang memiliki fenomena yang menarik mengenai kondisi perairanya adalah Kepulauan Taka Bonerate.

A.              Nomenklatur Taka Bonerate
Taka Bonerate - sebuah kepulauan di sisi selatan semenanjung Sulawesi dan Pulau Selayar, dengan nama baku "Kepulauan Macan". Pada zaman kerajaan Bone, kawasan ini dinamakan Bone Riattang (artinya kerajaan Bone di sebelah selatan atau gundukan pasir di selatan). Pada zaman kerajaan Gowa disebut Bone Irate (artinya kerajaan Gowa di sebelah selatan ataupun gundukan pasir di selatan). Tapi ada pula yang mengartikan Taka Bonerate sebagai "hamparan karang di atas pasir" (Molengraff - 1929) dalam "Sebaran dan Perkembangan Terumbu Karang di Indonesia Timur" menyebut Taka Bonerate sebagai Atol Harimau atau Tiger Island. Nama­-nama pulau di Taka Bonerate telah tiga kali mengalami perubahan yaitu nama yang diberikan oleh Molengraff 1929, nama dalam peta Dishidros, dan nama yang berlaku sekarang di masyarakat lokal.
Nama Kepulauan Macan diberi berbagai interpretasi makna yang berlainan. Interpretasi yang dinilai logis menghubungkan nama tersebut dengan bentuk kawasan beserta letak taka di dalamnya yang menyerupai gigi macan yang tajam dan cukup rapat. Menyiratkan sebuah peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapapun yang ingin masuk ke kawasan harus mengenal dahulu kepulauan tersebut, bila tidak, maka orang tersebut akan sulit keluar, karena diandaikan sudah berada di dalam mulut macan.
Gamabar 1. Peta Lokasi Kepulauan Taka Bonerate

Penamaan pulau-pulau, taka-taka, clan gusung yang membentuk Kepulauan Macan, sekarang disebut "Kawasan Taka Bonerate", bukan sekedar nama, melainkan mengandung makna sehubungan berkaitan dengan sumberdaya yang dikandungnya dan peristiwa­-peristiwa sejarah, sosial ekonomi serta politik masyarakat masa lalu.
Read more...

Wednesday, January 4, 2012

Perkembangan Tektonik Pulau Sumatera

1 comments
PERKEMBANGAN TEKTONIK PULAU SUMATERA


Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Salah satu hasil pertemuan ketiga ini membentuk pulau Sumatra.


A.             Gambaran Umum

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di selatan Jawa hampir tegak lurus, berbeda dengan pertemuan lempeng di wilayah Sumatera yang mempunyai subduksi miring dengan kecepatan 5-6 cm/tahun (Bock, 2000).
Pulau Sumatera dicirikan oleh tiga sistem tektonik. Berurutan dari barat ke timur adalah sebagai berikut: zona subduksi oblique dengan sudut penunjaman yang landai, sesar Mentawai dan zona sesar besar Sumatera. Zona subduksi di Pulau Sumatera, yang sering sekali menimbulkan gempa tektonik, memanjang membentang sampai ke Selat Sunda dan berlanjut hingga selatan Pulau Jawa. Subsuksi ini mendesak lempeng Eurasia dari bawah Samudera Hindia ke arah barat laut di Sumatera dan frontal ke utara terhadap Pulau Jawa, dengan kecepatan pergerakan yang bervariasi. Puluhan hingga ratusan tahun, dua lempeng itu saling menekan. Namun lempeng Indo-Australia dari selatan bergerak lebih aktif. Pergerakannya yang hanya beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter per tahun ini memang tidak terasa oleh manusia. Karena dorongan lempeng Indo-Australia terhadap bagian utara Sumatera kecepatannya hanya 5,2 cm per tahun, sedangkan yang di bagian selatannya kecepatannya 6 cm per tahun. Pergerakan lempeng di daerah barat Sumatera yang miring posisinya ini lebih cepat dibandingkan dengan penyusupan lempeng di selatan Jawa.

B.             Kerangka Tektonik Pulau Sumatra
Pulau Sumatra terletak di baratdaya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat Lempeng Eurasia/Sundaland. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra.




Gambar 1.  Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatra
                 (Barber dkk, 2005).

Subduksi dari Lempeng Hindia-Australia dengan batas Lempeng Asia pada masa Paleogen diperkirakan telah menyebabkan rotasi Lempeng Asia termasuk Sumatra searah jarum jam. Perubahan posisi Sumatra yang sebelumnya berarah E-W menjadi SE-NW dimulai pada Eosen-Oligosen. Perubahan tersebut juga mengindikasikan meningkatnya pergerakan sesar mendatar Sumatra seiring dengan rotasi. Subduksi oblique dan pengaruh sistem mendatar Sumatra menjadikan kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatra (Darman dan Sidi, 2000). Karakteristik Awal Tersier Sumatra ditandai dengan pembentukkan cekungan-cekungan belakang busur sepanjang Pulau Sumatra, yaitu Cekungan Sumatra Utara, Cekungan Sumatra Tengah, dan Cekungan Sumatra Selatan (Gambar 1).
Pulau Sumatra diinterpretasikan dibentuk oleh kolisi dan suturing dari mikrokontinen di Akhir Pra-Tersier (Pulunggono dan Cameron, 1984; dalam Barber dkk, 2005). Sekarang Lempeng Samudera Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia pada arah N20°E dengan rata-rata pergerakannya 6 – 7 cm/tahun. Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano-plutonik back-arc. Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi, 2000):
  1. Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan fore-arc Sunda dan yang memisahkan dari lereng trench.
  2. Cekungan Fore-arc Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan outer-arc dengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-arc Sumatra.
  3. Cekungan Back-arc Sumatra, meliputi Cekungan Sumatra Utara, Tengah, dan Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian bawah Bukit Barisan.
  4. Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik.
  5. Intra-arc Sumatra, dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore-arc dan back-arc basin.
Read more...